Prabowo Subianto
Kepak Sayap Gerindra
Berbagai cara ditempuh Gerindra, dari asuransi sampai koalisi.
Jum'at, 6 Februari 2009, 19:52 WIB
Arfi Bambani Amri, Rika Panda Pardede
Prabowo membekali kader Gerindra (Antara/ Widodo S Jusuf)

VIVAnews - PUKUL 08.15, Abdul Harris Bobihoe telah berdiri di depan gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerakan Indonesia Raya itu mengenakan kemeja putih berlogo burung garuda di dadanya.

Senyum terus mengembang di wajah pria asal Gorontalo ini. Hari itu, Jumat 6 Februari 2009, genap setahun umur partai yang membuat Haris meninggalkan sementara bisnisnya di bidang garmen itu. Ia termasuk yang datang paling awal untuk memastikan kesiapan salah satu acara kegiatan peringatan Hari Kelahiran Gerindra: upacara tabur bunga.

Halida Hatta, putri bungsu Proklamator Bung Hatta, Wakil Ketua Umum Gerindra, tiba setelah Harris. Tak lama kemudian, satu demi satu kader-kader partai yang mencalonkan mantan Panglima Kostrad, Letnan Jenderal Purnawirawan Prabowo Subianto, sebagai presiden itu terus berdatangan. Puluhan jurnalis dalam dan luar negeri turut memenuhi halaman depan makam, menunggu Prabowo yang direncanakan akan memimpin upacara tabur bunga pukul 09.00.

Mendekati jam tersebut, tibalah Suhardi, Ketua Umum Gerindra. Profesor di bidang ilmu kehutanan Universitas Gadjah Mada itu berjalan masuk ke ruang tunggu Taman Makam Pahlawan. Tak lama, giliran Sekretaris Jenderal Gerindra, Ahmad Muzani, menyusul Suhardi.

Waktu yang dijadwalkan telah lewat, namun Prabowo belum datang juga. Setelah mantan Deputi V Badan Intelijen Negara Muchdi Purwopranjono, Wakil Ketua Umum Gerindra, tiba menjelang pukul 09.20, barulah diketahui Prabowo tak bisa hadir karena kurang fit. Suhardi lalu didaulat menjadi pemimpin upacara.

Ketika upacara berlangsung, Wakil Ketua Umum Gerindra yang lain, Fadli Zon, dengan setengah berlari menuju pelataran upacara. Mantan politisi Partai Bulan Bintang ini lalu memilih berdiri di bagian belakang.

Suhardi kemudian memimpin rekan-rekannya menaburkan bunga di makam tersebut.  Kuburan mantan Wakil Presiden Indonesia, Adam Malik, yang pertama mendapat kehormatan. Kemudian rombongan itu menuju makam Soetan Sjahrir, pahlawan nasional yang pernah memimpin Partai Sosialis Indonesia, sebuah partai yang juga diikuti ayahanda Prabowo, Sumitro Djojohadikusumo.

“Makam Pak Agus Salim mana?” tanya Halida pada seorang kader Gerindra. Rupanya Halida ingin menziarahi makam Haji Agus Salim, rekan seperjuangan dan sekampung halaman dengan ayahandanya. Sedangkan Mayor Jenderal (Purnawirawan) Muchdi PR sempat mampir di makam Basuki Rahmat, jenderal yang menjadi saksi penting lahirnya Surat Perintah 11 Maret.

***

Keragaman makam tokoh yang diziarahi petinggi Gerindra ini seperti mewakili keragaman latar belakang tokoh yang membentuk Gerindra. Secara formal, di struktur Dewan Pimpinan Pusat, ada Prabowo sebagai Ketua Dewan Pembina dan TA Muliatna Djiwandono sebagai Bendahara Umum.

Ditilik dari namanya, Muliatna Djiwandono jelas memiliki hubungan kekeluargaan dengan Soedradjad Djiwandono yang menikahi kakak Prabowo, Bianti. Anak pasangan ini, G Budi Satrio Djiwandono, merupakan calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat nomor urut 2 daerah pemilihan Jakarta II.

Kedekatan keluarga juga salah satu alasan yang membuat Halida bergabung dengan Gerindra. Ia memilih tak bergabung dengan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia yang dipimpin kakaknya, Meutia Hatta. “Bapak saya dan Prabowo kan sama-sama seperjuangan dulu. Dua paman dia bahkan meninggal dalam pergerakan kemerdekaan.”

Tak hanya dari kalangan kerabat dekat, Prabowo membawa sejumlah anak buahnya semasa masih aktif sebagai tentara yaitu Muchdi dan Gleny Kairupan, dua-duanya Mayor Jenderal purnawirawan.  Ia juga mengerahkan rekan-rekannya di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia di mana dia menjadi Ketua Umumnya.  Suhardi misalnya, merupakan salah satu ketua di organisasi massa petani yang di era Orde Baru menginduk ke Partai Golkar itu.

Masa lalu juga mengikat Prabowo dengan Probosutedjo, adik tiri mantan mertuanya, Soeharto. Rabu 21 Januari 2009 lalu, Prabowo diundang menghadiri peluncuran buku Probo ‘Dari Pak Harto untuk Indonesia’ dan ‘Presiden RI ke-2 Jenderal Besar HM Soeharto’.

Di sinilah Probosutedjo menyatakan keluarga Cendana mendukung Prabowo sebagai calon presiden. Ia mengaku akan memberi masukan kepada Prabowo mengenai apa yang sudah dibangun Soeharto. “Sebab tinggal satu langkah lagi Pak Harto itu tidak ada orang miskin (di Indonesia)," kata Probo.

"Kalau hanya wakil presiden, saya tidak mau bantu. Saya bilang, kalau kamu cuma jadi calon wakil presiden, nggak usah maju saja."

Belakangan, beberapa orang dari kubu nasionalis turut menjaga gaung Gerindra. Sejak sebulan lalu, Haryanto Taslam, mantan aktivis Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, membaktikan diri sebagai Direktur Gerindra Media Center. Menyusul kemudian Permadi, anggota fraksi PDIP di parlemen. "Saya mendekati Prabowo karena saya nilai dia sudah menjadi Soekarno kecil," kata Permadi, Jumat 30 Januari lalu.

***

 “Sebetulnya Gerindra ini didirikan oleh orang-orang yang sesungguhnya sudah punya jaringan yang luas,” kata Suhardi.

Suhardi yang mengklaim memimpin 10 organisasi -mulai dari HKTI sampai Agroforestry Network yang melibatkan 20 universitas- itu bahu-membahu bersama kader-kader Gerindra mengunjungi seluruh pelosok tanah air.

Dalam waktu singkat, kurang dari tiga bulan sejak deklarasi, Gerindra lolos verifikasi partai di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia 4 April 2008. Tiga bulan setelah itu, Gerindra lolos verifikasi faktual Komisi Pemilihan Umum.

Sebenarnya, ujar Suhardi, sebelum Gerindra berdiri, jejaring embrio partai sudah muncul meskipun tidak formal. “Sehingga ketika pluit ini ditiup, dibunyikan, semua komponen sudah siap,” kata Ahmad Muzani, Sekretaris Jenderal Gerindra.

Namun aral melintang di hadapan Gerindra: tak banyak orang mengenal partai ini. Itulah sebabnya partai ini gencar beriklan. “Iklan itu untuk mengenalkan partai dan visi-misinya pada masyarakat,” kata Halida.

Sebagai awalan, benak masyarakat Indonesia disentakkan dengan trilogi iklan Prabowo. Iklan pertama, Prabowo selaku Ketua Umum HKTI, ditampilkan sedang berusaha mempopulerkan pengutamaan produksi petani. Iklan kedua Prabowo, sebagai Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional, mengajak masyarakat membeli produk dalam negeri. Barulah pada iklan ketiga, Prabowo mengenalkan visi dan misi Gerindra.

Jor-joran iklan ini ditaksir AC Nielsen telah menghabiskan duit sekitar Rp 8 miliar per bulan pada periode Juli-Oktober 2008.

Hasilnya memang sepadan. Hanya dalam hitungan bulan popularitas Prabowo dan Gerindra yang mencalonkannya sebagai presiden, membubung. September 2008, Lembaga Survei Indonesia menemukan Prabowo merupakan tokoh keempat yang dipilih paling banyak sebagai presiden di bawah Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri dan Wiranto. Gerindra yang baru berumur 6 bulan juga memiliki elektabilitas 3 persen.

Dari mana sumber dana untuk iklan besar-besaran ini?

“Setahu saya dananya bersumber dari pribadi, keluarga Prabowo sendiri. Di samping itu, tentu saja ada inisiatif dari para simpatisan,” kata Haryanto Taslam.

Muzani mengungkapkan hal senada. Prabowo dan adiknya, Hashim Djojohadikusumo, kata dia, merupakan penyumbang terbesar partai berlambang burung garuda berwarna keemasan itu.  Seberapa tebal kocek mereka? Tidak ada resmi. Namun, pada Juni 2008, majalah Forbes menempatkan Hashim sebagai orang terkaya ke-14 di Indonesia, dengan taksiran kekayaan mencapai US$ 1,05 miliar.

Sedangkan Prabowo, seperti disebutkan di situsnya www.prabowosubianto.net, tercatat menjadi Komisaris Perusahaan Migas Karazanbasmunai di Kazakhstan, Chief Executive Officer PT Tidar Kerinci Agung, CEO PT Nusantara Energy dan CEO PT Jaladri Nusantara. “Pak Prabowo lumayan besar, dengan perusahaan-perusahaan dia (banyak) membantu,” kata Muzani.

***

Meski dana dan popularitas telah direngkuh, elektabilitas Prabowo maupun Greindra masih tidak cukup untuk mengusungnya menjadi presiden. Upaya peningkatan tingkat keterpilihan ini, kata Muzani, bukan pekerjaan iklan. “Ini pekerjaan mesin partai dan para caleg,” kata Muzani.

Gerindra mengembangkan taktik menambah anggota melalui kartu anggota yang sekaligus menjadi kartu asuransi. “Asuransi ini kerja sama dengan PT Asuransi Bumiputera. Kami yang bayar premi,” kata Suhardi. Premi ini ditanggung partai selama dua tahun pertama.  Alhasil, pada peringatan setahun Gerindra pada 6 Februari 2009 malam di Balai Sarbini, Jakarta, ada penyerahan kartu anggota ke-10 juta.

Sembari membesarkan partai, Gerindra mengembangkan sejumlah organisasi underbouw. “Ada Satria, Tidar, Pira, Kira,” kata Ketua Umum Satria, Heru Johansyah, usai acara tabur bunga di Kalibata. Satria adalah singkatan dari Satuan Relawan Indonesia Raya, sebuah organisasi kepemudaan yang memfokuskan diri pada gerakan kepemudaan dan penanggulangan bencana.

Heru menyatakan, 8 Februari nanti organisasi yang dipimpinnya akan mengadakan acara pelantikan anggota ke sejuta di Surabaya. Kini Satria sudah ada di 33 provinsi, 364 kota dan kabupaten. “Kami sudah sampai ke taraf desa dan kelurahan. Sudah hampir setaraf dengan partai sekarang ini.”

Untuk membidik pemilih pemula di kalangan pelajar dibentuklah Tunas Indonesia Raya (Tidar) . Sedangkan untuk merengkuh kalangan wanita, wadahnya Pira atau Perempuan Indonesia Raya. “Kira singkatan Kristen Indonesia Raya. Nanti akan ada juga Muslim Indonesia Raya,” ujar Heru menambahkan.

Di luar itu, terdapat sejumlah organisasi massa yang mendukung Gerindra atau Prabowo secara terang-terangan misalnya Gerakan Rakyat Dukung Prabowo (Gardu Prabowo) dan Prabowo Fans Club.

Taktik koalisi juga akan ditempuh Gerindra untuk menaikkan Prabowo sebagai calon presiden. Poros Indonesia Raya nama tawaran koalisinya. “Sejumlah partai sudah menyatakan siap bergabung,”  kata Suhardi.

• VIVAnews
 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.