|
||
|
VIVAnews - MEREKA datang bertiga. Puan Maharani, Pramono Anung dan Tjahjo Kumolo. Pukul delapan malam, Jumat 7 Mei 2009. Cikeas malam itu sedang menggelar pengajian. Ibu-ibu memenuhi pendopo kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini.
Tapi tiga tokoh PDI Perjuangan itu bukan datang untuk menghadiri pengajian. Mereka langsung masuk ke rumah induk. Lalu duduk di ruang tamu.
Yudhoyono menerima mereka di situ. Calon presiden dari partai Demokrat ini didamping sejumlah orang dekatnya. Ibu Ani Yudhoyono nimbrung sebentar, lalu pamit. Puan Maharani, Pramono Anung dan Tjahjo Kumolo adalah tokoh dengan bobot politik yang tinggi di PDI Perjuangan. Puan adalah putri sang ketua umum, Megawati Soekarnoputri dan dipercaya sebagai politikus penerus dinasti Bung Karno. Pramono adalah sekretaris jenderal partai dan Tjahjo Ketua Badan Pemenangan Pemilu. Kehadiran mereka di Cikeas itu diyakini sebagai utusan resmi Megawati.
Dan ini betul-betul pertemuan super mengejutkan. Sebab empat setengah tahun pemerintahan Yudhoyono, PDI Perjuangan memposisikan diri sebagai oposisi yang keras. Bukan cuma partainya saling bergesekan, Yudhoyono dan Megawati pun kerap kali saling bertukar kritik di muka umum.
Dalam pidato hari ulang tahun PDI Perjuangan di Palembang, Kamis 31 Januari 2008, Mega menyindir kinerja pemerintah seperti tarian poco-poco. “Maju satu langkah, mundur satu langkah, maju dua langkah mundur dua langkah. Artinya tidak pernah berangkat dari tempatnya,” kata Mega.
Setahun kemudian, dalam pidato Rakernas di Solo, Jawa Tengah, Januari 2009 Megawati meminta pemerintah agar jangan jadikan rakyat seperti main yoyo.”Naik turun, naik turun, lempar ke sana ke mari,” katanya. Kritikan itu mengundang kedua kubu berperang kata-kata di muka umum.
Tapi politik punya logikanya sendiri. Pertemuan di Cikeas Jumat malam itu, “Berlangsung akrab dan berbicara seputar koalisi Partai Demokrat dengan PDI Perjuangan dalam pemilihan presiden 2009”, kata sumber VIVANews.
Lima puluh menit bertemu, tiga tamu itu pamit pukul 9 malam kurang sepuluh menit. Mereka pulang hampir bersamaan dengan ibu-ibu pengajian di pendopo rumah.
Dan kisah pertemuan di Cikeas itu sesungguhnya merupakan seri lanjutan dari kedatangan Hatta Rajasa, Menteri Sekretaris Negara, ke kediaman Megawati di Teuku Umar, dua hari sebelumnya, Rabu 6 Mei 2009.
Penjelasan Hatta dan PDI Perjuangan soal inti pertemuan itu mengawang. Hatta bilang dia datang hendak membereskan status rumah di Teuku Umar, yang sudah sah menjadi milik Megawati.
Tapi Pramono Anung memastikan Hatta datang membuka komunikasi antara Cikeas dan Teuku Umar. Pram menegaskan, “Ketika secara resmi Hatta Rajasa diutus oleh SBY, ini adalah awal komunikasi itu”.
Soal pertemuan di Cikeas itu keterangan mereka juga berbeda. Pramono Anung membantah adanya pertemuan di Cikeas itu. Pertemuan itu memang ada tapi,“Tidak di Cikeas,”kata Pramono sembari tertawa kepada wartawan di Teuku Umar, Sabtu pekan ini.
Sebaliknya Ruhut Sitompul dari Partai Demokrat membenarkan adanya pertemuan di Cikeas itu. Jumat malam lalu itu Ruhut hadir di sana. Wartawan yang kesulitan memastikan pertemuan itu “memburu” Ruhut yang keluar dari Cikeas.
Ruhut akhirnya berhenti dan menunggu wartawan di depan sebuah rumah sakit di Cibubur, sekitar dua kilometer dari Cikeas.
Di situ Ruhut memberi keterangan. Pertemuan itu, katanya, “Ada, tapi bukan oleh tim sembilan. Ada tim lain.” Tim Sembilan adalah tim yang khusus bertugas menyaring calon wakil Yudhoyono. Seberapa besar peluang koalisi itu, “ Sekitar 70 persen lah,” kata Ruhut yang juga salah satu ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat itu.
Walau menampik adanya pertemuan Cikeas, PDI Perjuangan juga memastikan sedang menjajaki koalisi dengan Demokrat. MenurutPramono Anung kedua pihak sedang saling taksir. “Namanya komunikasi harus dilakukan dahulu,” katanya. “Presentasenya semakin dekat ke tanggal 16 Mei,” kata Sabam Sirait, politisi senior PDI Perjuangan di Teuku Umar, Sabtu, 8 Mei.
***
Setelah tiga tamu itu meninggalkan Cikeas, Jumat malam itu, sejumlah petinggi Demokrat memasuki rumah itu pukul sembilan malam. Mereka datang menghadiri rapat tentang koalisi dan deklarasi Capres dan Cawapres yang sedianya digelar Senin, 11 Mei di Bandung.
Rapat dipimpin langsung Yudhoyono. Hasilnya, deklarasi itu diundur Jumat, 15 Mei 2009. Alasanya, “Karena Bapak menghadiri sebuah acara penting di Sulawesi,” kata Ruhut.
Sumber VIVANews menuturkan penundaan itu dilakukan karena setelah pertemuan di Cikeas itu, PDI Perjuangan meminta waktu dua tiga hari untuk memberi keputusan.
Ruhut Sitompul memastikan, selain agenda presiden, deklarasi itu ditunda agar partai lebih leluasa merancang koalisi yang kuat. Selain itu dia berujar, “Memang kami harus lebih sabar, kami mengerti perasaan Ibu Mega,” kata Ruhut.
Sumber VIVANews memastikan koalisi dengan PDI Perjuangan itu hanya pada tingkat kabinet. Artinya, kader PDI Perjuangan cuma diakomodasi ke sejumlah kursi kabinet. Sebab, kursi wakil presiden sudah ditentukan sebelum koalisi dengan PDI Perjuangan dijajaki. Beberapa hari lalu Yudhoyono memang telah menegaskan, “Saya sudah menentukan cawapres yang paling tepat mendampingi saya”.
****
Siapa pendamping Yudhoyono. Memang belum terang benar. Nama yang masuk ke Cikeas memang banyak. Sekitar 20 orang. Cawapres sebanyak itu diusulkan sejumlah partai koalisi dan kalangan profesional.
Partai Keadilan Sejahtera (PKS), misalnya, mengusulkan lima nama. Dari lima nama itu, yang paling kuat adalah Hidayat Nur Wahid, mantan Presiden PKS yang kini menjadi wakil ketua MPR.
Partai Kebangkitan Bangsa mengusulkan Muhaimin Iskandar, Partai Amanat Nasional mengusulkan Hatta Rajasa.
Belakangan ada dua calon kuat yakni Hatta Rajasa dan Boediono, Gubernur Bank Indonesia. Nama Hatta perlahan meredup setelah Partai Amanat Nasional (PAN) terpecah. Hatta memang direkomendasikan dalam rapat partai di Jogyakarta, yang tidak dihadiri oleh Sutrisno Bachir.
Belakangan nama yang paling menguat adalah Boediono. Sejumlah sumber VIVANews menuturkan bahwa Boediono sudah tiga kali dipanggil Cikeas soal pencalonan itu. Dan setelah melewati berbagai pertimbangan, Boediono bersedia.
Boediono juga dipanggil ke Cikeas Jumat malam itu. Setelah Yudhoyono menerima utusan PDI Perjuangan dan menggelar pertemuan dengan petinggi Demokrat, Boediono datang ke Cikeas.
"Pak Wapres tiba sekitar 21.30 WIB," kata VIVAnews.Yang dimaksudkan Pak Wapres itu adalah Boediono. Dan Gubernur Bank Indonesia juga sudah dkenalkan kepada petinggi partai Demokrat. Rencananya Cikeas akan membentuk tim khusus untuk mengabarkan soal Boediono itu kepada sejumlah partai koalisi.
Nama Boediono sesungghunya sudah lama dipertimbangan SBY. Mantan Menko Perekonomian itu. kata Alwi Hamu, sudah terdengar satu bulan lalu. Saat Tim Lembang Sembilan yang dipimpin Alwi berusaha sekuat tenaga menyatukan kembali Yudhoyono dan Jusuf Kalla dalam pemilihan presiden 2009.
Lembang Sembilan adalah salah satu tim sukses Jusuf Kalla. Tim ini ikut menyukseskan SBY-Kalla dalam Pemilu 2009. Pilihan terhadap Boediono, kata Alwi Hamu, sangat rasional. Sebab, “Kalau memilih orang PAN, nanti tidak enak dengan PKS dan PKB. Demikian pula sebaliknya,” kata Alwi.
Sayang, Boediono sulit dimintai komentar soal pencalonan ini. Ketika mengetahui ada wartawan yang menunggu di Bank Indonesia, mobil sedan Toyota Camry yang biasa ditumpangi Boediono selalu dipindahkan ke basement gedung BI.
Pulang dari kantor pun Boediono tidak lagi lewat pintu depan lobi Gedung BI Thamrin. Mantan Menteri Keuangan di era Megawati itu memilih lewat basement. Misalnya, pada Kamis malam lalu, mobil Boediono B 1712 BS meninggalkan kantor lewat basement pada 19.30 WIB.
Ketika ditunggu di satu pintu, sedan Boediono tiba-tiba keluar basement diiring pengawal.Sebelum keluar dari kantor, ajudan Boediono memang menyampaikan bahwa Gubernur BI tidak berkenan memberikan komentar. "Pak Boediono takut salah ngomong," kata sumber VIVAnews di BI.
Sejumlah kalangan menilai pilihan terhadap Boediono sudah tepat. “Itu bagus, kalau calon non partai, Boediono orang yang tepat,” kata Mirza Adityaswara, analis perbankan. Alasannya Boediono adalah ekonom paling senior. “Boediono sudah memiliki chemistry dengan Presiden Yudhoyono.”
Pilihan dari non partai itu, menurut Mirza, sangat logis sebab perolehan partai yang berkoalisi dengan Demokrat hanya berkisar 5-8 persen. “Sangat jauh dibandingkan dengan Demokrat yang mencapai 20 persen suara,” katanya. “Kecuali, jika yang bergabung Golkar dengan suara 14 persen. Itu bisa untuk kursi Wapres."
Pendapat yang sama juga datang dari ekonom Universitas Indonesia Ninasapti Triaswati. "Secara pribadi, Boediono adalah pemimpin yang hebat," kata Nina. Nina yakin, jika Boediono menjadi wakil presiden maka kondisi ekonomi Indonesia tak berubah drastis." Tim ekonomi cenderung setuju negosiasi, kerjasama internasional, ya persis seperti sekarang," ujar Nina.
Tetapi, Kepala Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas, Pardomuan Sihombing, berpendapat sebaliknya. "Kurang kuat, pasar bisa bereaksi negatif," katanya. Menurut dia, pelaku pasar diperkirakan menerima siapa pun pendamping SBY, asalkan berasal dari kalangan partai politik. "Yang penting eksekutif dan legislatif saling mendukung, sehingga kebijakan yang dihasilkan lebih cepat direalisasikan," ujar dia.
Penilaian serupa juga disampaikan pengamat Ekonomi Umar Juoro. "Kalau itungan politik lebih bagus cawapres berasal dari partai," kata Umar. Dia mengakui, Boediono merupakan sosok yang kapabel dan memiliki kredibilitas tinggi. “Boediono akan mudah melenggang jika SBY menerapkan syarat-syarat, parpol yang menjadi peserta koalisi tidak boleh menolak Boediono."
***
Sejauh ini ada dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang dipastikan bakal maju ke pemilihan tanggal 8 Juli nanti. Yang sudah dideklarasikan adalah pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto.
Pasangan berikutnya adalah Yudhoyono. Jika PDI Perjuangan bergabung dengan Demokrat, maka yang tersisa adalah Gerindra, PPP dan PAN. Kalau Prabowo Subianto bisa merangkul keduanya, maka mantan Pangkostrad itu bisa menjadi kandidat ketiga.
Pasangan mana yang paling berpeluang. Sejumlah survei lembaga jajak pendapat menunjukan tingkat keterpilihan SBY paling tinggi.
SBY tidak hanya dipilih oleh massa Demokrat, pemilih dari partai lain juga banyak nyebrang memilihnya.
Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dirilis 16 April 2009, menemukan pemilih Partai Golkar lebih memilih SBY daripada Kalla.
Dalam exit poll terhadap pemilih Golkar usai memberikan suara di Tempat Pemungutan Suara pada 9 April 2009 lalu, 45,1 persennya memilih SBY. Sementara pemilih Jusuf Kalla hanya 22,2 persen.
Bahkan, angka lebih tinggi lagi diperoleh SBY dari PKS. Ada 65,7 persen pemilih PKS yang memilih Yudhoyono sebagai presiden. Begitu juga di PKB, 55,3 persen memilihnya, PAN (46,4 persen), PPP (53,7 persen).
Pesona SBY juga menyedot pemilih dari sejumlah partai. Dari pemilih PDIP sekitar 19 persen, pemilih 19,7 persen, pemilih Hanura sampai 38,5 persen memilih SBY.
Itulah sebabnya, pengamat politik dari Universitas Gajah Mada, Doddy Ambardi, mengatakan calon wakil presiden untuk mendampingi SBY tidak harus dari partai politik. “Yang terpenting dia membantu tugas SBY di pemerintah dan mampu membangun koalisi di parlemen,” katanya.
Soal peluang Boediono, Doddy menilai cukup strategis dan menguntungkan. “Sebab dia bukan partisan partai dan memiliki pengalaman di birokrasi.”
Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum menegaskan bahwa, “Siapa pun pemimpin puncak, biasanya membutuhkan wakil yang loyal, pekerja keras, kredibel dan tak banyak bicara,” katanya. “Siapa orangnya, silakan intip sendiri di kantong SBY.”
• VIVAnews