SBY-Boediono
Kenapa Boediono
Dia tidak grusa-grusu. Jauh dari urusan mencari muka. Tidak menggunting dalam lipatan.
Jum'at, 15 Mei 2009, 20:46 WIB
Edy Haryadi, Eko Huda S, Suryanta Bakti Susila
Deklarasi SBY - Boediono (Vivanews/ Tri Saputro)
Pidato Boediono Dalam Deklarasi di Sabuga
 

VIVAnews – JUMAT 15 Mei 2009 benar-benar harinya Boediono. Sang profesor ekonomi itu menyedot mata sekujur negeri. Mengenakan celana hitam, batik merah panjang, berpeci hitam, dia berdiri di atas podium itu. Sabuga, Bandung, Jawa Barat.

Dalam deklarasi Susilo Bambang Yudhoyono dan Boediono sebagai pasangan calon presiden pemilihan umum 2009 itu, wajah sang guru besar ini terlihat sumringah, tapi tetap tenang, juga tetap bersahaja.

Dan ini bukanlah Boediono yang biasa kita jumpai. Yang irit bicara, doyan jawaban pendek-pendek, yang bikin kesal para reporter karena suka menghindar jika ditanya.

Dihadapan dua ribu orang malam itu, Boediono polos mengaku,”Saya tahu penunjukan diri saya penuh kontroversi.” Dengan aksentuasi yang tegas dia melanjutkan bahwa silang pendapat itu adalah buah dari demokrasi yang hidup.

“Sebagai hasil dari reformasi yang ditebus dengan badan dan jiwa mahasiswa Indonesia 10 tahun lalu,”katanya.Tepuk tangan hadirin bergemuruh.

Kontroversi,memang sudah menyergap Boediono sejak namanya dipastikan menjadi calon wakil presiden. Partai Amanat Nasional(PAN) Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengirim protes keras.

Mereka menggelar pertemuan di sejumlah tempat. Di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Hotel Nikko di Jakarta Pusat. Rekan koalisi Partai Demokrat itu memang sudah mengajukan nama calon wakil presiden.

Anis Matta, Sekretaris Jenderal PKS, menegaskan bahwa setiap partai peserta koalisi sudah mengajukan calon wakil presiden. Tapi itu tidak direken Yudhoyono. Padahal, kata Anis, ini menyangkut pilihan konstituen. Keinginan arus bawah agar kader-kader PKS bisa bekerja.  Kalau memilih Boediono, “Mereka tidak merasa terwakili sama sekali."

Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional, Zulkifli Hasan, juga kaget dengan munculnya nama Boediono. PAN sendiri mengharapkan SBY atau Demokrat memilih calon wakil presiden yang disetor partai politik.  "Munculnya Boediono ini mengejutkan. Saya khawatir militansi kader-kader partai akan mengendor karena munculnya Boediono," kata Ketua Fraksi PAN  di parlemen itu.

Protes terbuka itu lah yang  membuat Yudhoyono mengundang pimpinan tiga partai koalisi bertandang ke Wisma Negara, Selasa malam lalu. Di sana dijelaskan alasan memilih Boediono. "Kami sudah menjelaskan alasannya," kata Andi Mallarangeng, salah satu ketua Partai Demokrat. Tapi PKS absen dari pertemuan itu.

Sejumlah unjuk rasa menentang Boediono juga digelar sekelompok mahasiswa. Rupa-rupa alasannya. Sebagian menolak karena Boediono dianggap sebagai pewaris aliran ekonomi neoliberal, yang bertahun-tahun mengurung ekonomi rakyat di bawah ketiak modal asing.

Tapi di Sabuga Jumat malam itu, hampir semua petinggi partai koalisi hadir. Juga  Presiden PKS Tifatul Sembiring. Dari atas podium Boediono menjawab langsung ke titik kontroversi itu. Perekonomian kita, katanya, tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pasar bebas.

Perlu intervensi dengan aturan main yang jelas dan adil. Dan alat untuk melakukan intervensi itu adalah negara. Hanya saja, “Negara tidak boleh terlalu campur tangan, tapi juga tidak boleh tidur.”

Di awal abad ke 20, lanjutnya, Bung Karno di kota Bandung ini menyatakan “Indonesia Mengugat”. Waktu itu Indonesia mengugat penjajahan. Kini yang kita gugat adalah penjajahan oleh kekuatan luar dan dari dalam yang membuat kita merasa terpuruk.

Mencapai semua harapan itu Boediono berjanji bekerja keras. “Mulai hari ini,” katanya menutup pidato malam itu. Gempita tepuk tangan membahana.

Satu per satu tamu pergi meninggalkan gedung itu. Di atas panggung bersama istrinya Herawati, Boediono terlihat akrab berbincang dengan Tifatul Sembiring. Cukup lama, lalu cipika-cipiki.

***

Cikeas, kata sumber VIVANews, mulai menghitung nama Boediono setelah pemilihan legislatif digelar.  Pertengahan April lalu, kata sumber itu, setelah hasil quick count sejumlah lembaga survei mengunggulkan Partai Demokrat, SBY mengutak-atik calon wakil presiden.

Yang hadir dalam pembahasan itu cuma orang-orang dekat SBY. Bahkan pasukan pengaman yang selalu mengawalnya tidak boleh hadir.Tampaknya sang calon presiden Demokrat itu hendak menjaga perasaan banyak kandidat Cawapres yang gencar mendekat ke Cikeas saat itu. “Dia tak mau pembicaraan itu bocor sedikitpun,” kata sumber itu.

Dari berbagai diskusi terbatas di kalangan dekat itu, terbitlah apa yang disebut sebagai skema pasangan Capres dan Cawapres Demokrat. Titik pusat dari skema itu adalah SBY.

Dari titik pusat itu dibikinlah sejumlah garis yang menghubungkan SBY dengan calon wakil presiden. Garis pertama ke arah bawah. Garis itu menghubungkan SBY dengan Golkar. Ini pilihan pertama. “SBY tetap ingin wakilnya dari Golkar,” kata sumber itu.

Garis kedua adalah yang menghubungkan SBY dengan Boediono. Pilihan terhadap Boediono dilakukan jika negosiasi dengan Golkar gagal dilakukan. Lalu garis yang ketiga menghubungkan SBY dengan kader Partai Demokrat.

Dari semua calon wakil presiden yang masuk bursa, kata sumber VIVAnews, Boediono masuk kategori paling aman. “Pak Boediono kandidat paling aman,”kata SBY sebagaimana ditirukan sumber VIVAnews.

Setelah negosiasi dengan Golkar gagal total, pilihan kemudian jatuh kepada Boediono. Dan sejak empat minggu lalu, Boediono dipanggil ke Cikeas membahas pencalonan itu. Boediono tentu saja terkejut. Dia meminta persetujuan dari keluarga dulu.

Kepada wartawan di Bandung, Jumat malam lalu, Boediono  membenarkan bahwa dirinya meminta waktu berpikir dan meminta restu keluarga. “Saya katakan ini tidak bisa diputuskan dalam semalam.”tutur Boediono.

Dari Cikeas Boediono pulang ke rumahnya dan meminta ijin dari keluarga. “Keluarga dulu nomor satu,baru saya,” kata Boediono. Dan keluarganya memberi restu. Dan restu itu tidak dilupakan Boediono.

Dalam kata sambutannya di atas podium – di samping berterima kasih kepada SBY yang memilihnya - Boediono juga menyampaikan, “Terima kasih kepada istri saya yang menyetujui suaminya memasuki tugas yang sama sekali baru.”

Selain aman, kata sumber VIVAnews, SBY menilai Boediono juga memiliki kompetensi di bidang ekonomi dan sudah lama mengenalnya. Jadi, “Chemistrinya sudah nyambung,” kata sumber itu. Soal Chemistri itu jugalah yang diceritakan SBY dalam pidatonya di Bandung, Jumat malam itu. Dia juga menjelaskan mengapa pilihan jatuh pada ahli moneter ini.

SBY mengaku mengenal Boediono semenjak sepuluh tahun lalu, pada masa-masa awal reformasi. Perkenalan mereka kian intens setelah  Prof Boediono menjadi Menteri Perekonomian.

Di tengah tuduhan bahwa Boediono kurang mewakili suara kaum Islam, SBY menegaskan bahwa, “Pak Boediono adalah seorang muslim yang lurus, jujur, sederhana, konsisten dan toleran.  Seorang teknokrat dan ekonom yang cerdas. Ulet. Keras dalam bekerja dan bertanggungjawab.” Tepuk tangan pun menggema.

Yudhoyono juga menilai Boediono seorang kordinator menteri yang berpikir utuh, loyal, tidak grusa-grusu dan jauh dari keinginan mencari muka.

“Di atas segalanya, dalam mengemban tugas, pak Boediono tak memiliki konflik kepentingan. Baik untuk kepentingan bisnis, atau pun motivasi politik yang lain,” ujarnya. Tepuk tangan hadirin kembali menggema.

Dengan integritas Boediono, kemampuan, dan sifatnya yang suka bekerja keras, Yudhoyono yakin, Boediono  akan mampu dan tepat untuk mendampingi dirinya.  “Beliau akan mampu membantu saya mengatasi krisis perekonomian,” ujar Yudhoyono.

Alasan memilih Boediono juga disampaikan sejumlah petinggi Demokrat. Pilihan terhadap Boediono, kata Mubarok, Wakil Ketua Umum Demokrat, karena  Gubernur BI itu orang yang loyal. Boediono dinilai bukan orang yang suka menggunting dalam lipatan.

Beberapa pelaku ekonom juga senang Boediono dipilih menjadi wakil SBY.
Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk Gatot M Suwondo menilai Boediono cocok mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono. Boediono diharapkan dapat menjadi pendorong kebijakan ekonomi. "Cocoklah bekas Menko, Gubernur BI. Pengusaha bilang oke," kata Gatot.

Direktur Bank Century Erwin Prasetio mengatakan, Boediono diharapkan dapat membantu kinerja SBY dalam bidang ekonomi. Apalagi Indonesia membutuhkan pembangunan ekonomi yang lebih gencar dalam lima tahun ke depan. "Kalau wapres berasal dari partai akan menyulitkan," kata dia.

***

Yudhoyono dan Boediono dipastikan akan bertarung dengan pasangan Jusuf Kalla-Wiranto dan pasangan Megawati Prabowo. Tiga pasangan ini sudah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum(KPU), Sabtu,16 Mei 2009. Pekan ini mereka periksa kesehatan sebagai salah satu syarat kandidat.

Siapa yang bakal menang akan diketahui dari hasil Pemilu yang digelar 8 Juli nanti. Tapi bila hasil jajak pendapat sejumlah lembaga survei bisa dipercaya, maka pasangan SBY-Boediono akan memenangi pertarungan dalam satu putaran.

Lihatlah survei Lembaga Survei Indonesia 27 April hingga 3 Mei terhadap 2.014 responden, pasangan SBY-Boediono dipilih 70 persen. Jumlah ini lebih tinggi dari pasangan Megawati-Prabowo sebesar 21 persen atau pasangan Jusuf Kalla sebesar 3 persen.

Walau tidak menang dalam satu putaran, hasil survei Lembaga Riset Indonesia menunjukan pasangan SBY-Boediono tetap unggul telak. Dari hasil survei lembaga itu diketahui pasangan SBY-Boediono dipilih 34 persen responden. Jumlah ini lebih tinggi dari pasangan Jusuf Kalla-Wiranto sebesar 27 persen.

Pengamat politik UGM, Kustrido Ambardi, menilai pilihan SBY pada Boediono menunjukkan prioritas SBY. “SBY memilih Boediono terutama berdasar pertimbangan penyelesaian masalah ekonomi,” ujarnya. Pasangan ini dinilai Kustrido pasangan yang cocok. Sebab Boediono memiliki kemampuan penanganan masalah ekonomi.

Tapi Kustrido tak membantah Boediono memiliki kelemahan. Salah satunya karena Boediono kurang bisa mengeluarkan gagasannya secara tegas di depan publik. Tapi ini juga jadi keuntungan karena Boediono tak perlu mengeluarkan pernyataan-pernyatan kontroversial.

Direktur CIRUS, Andrinof Chaniago, menilai alasan Yudhoyono memilih Boediono bisa dilihat dari dua hal. Pertama, selera kepemimpinan SBY. Kedua, alasan politis karena Boediono non partai, sehingga lebih bisa diterima. Selain itu Boediono ahli ekonomi. “Secara kepribadian, Boediono orang yang baik, santun dan sederhana.”

Kesederhaan itu memang melekat dalam kepribadian sang guru besar itu. Bertahun-tahun menjadi menteri, rumah miliknya di Mampang, Jakarta Selatan, terletak di sebuah jalan yang sempit. Sofa di ruang tamu juga tidak mewah. “Kalau olahraga, Bapak lebih sering jalan kaki di Senayan,” kata sang istri, Herawati.

Setelah gegap gempita deklarasi di Bandung, Jumat malam lalu itu, bersama istrinya Boediono pulang menumpang kereta Parahyangan. Kereta itu pula yang membawanya ke Bandung di pagi hari. Satu kursi harganya 45 ribu perak.

Pidato Boediono

• VIVAnews
 
komentar
alexbarkah
17/05/2009
Kita mengharap kepada Pak Boed bisa mengatasi imbas krisis ekonomi Global,seperti Cina.Dan kita menjadi Tuan di negerinya sendiri.Jangan sampai tuduhan Mahasiswa yang kontra menjadi kenyataan.Wait and see.Mudah2an beliau tidak mengecewakan bangsanya.Dan pilihan Pak SBY bisa diandalkan.
alexbarkah
17/05/2009
Kita mengharap kepada Pak Boed bisa mengatasi imbas krisis ekonomi Global,seperti Cina.Dan kita menjadi Tuan di negerinya sendiri.Jangan sampai tuduhan Mahasiswa yang kontra menjadi kenyataan.Wait and see.Mudah2an beliau tidak mengecewakan bangsanya.Dan pilihan Pak SBY bisa diandalkan.
Coyo
19/05/2009
Pemimpin2 yg spt inilah yg sekarang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia..dalam situasi resesi global yg sekarang ini menjalar hampir semua negara ternyata hanya China,India dan Indonesia saja yg mencapai pertumbuhan ekonomi positif...Itu tidak lain dan tidak bukan karena kepemimpinan SBY sebagai presiden dan Boediono sebagai gubernur BI yg menjaga menjaga stabilitas moneter..Lanjutkan pak SBY..masyarakat dan bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yg santun,bersahaja dan rendah hati dlm kehidupan sehari-hari...Meski deklarasi di tempat sampah tapi Capres-Cawapres itu kehidupan sehari-harinya bertolak belakang dengan apa yg kita lihat...mobilnya saja Hammer olahraga berkuda......??????
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.