|
||
|
VIVAnews - SENYUM Megawati mengembang. Di depan 60.000 massa yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno, Selasa 30 Juni 2009, sesekali Megawati bertepuk tangan saat Prabowo berpidato. Pekik sorak massa membuat senyum Mega semakin berkembang. Ia sendiri duduk tak jauh dari tempat Prabowo berpidato.
Ketika waktunya memulai orasi, Mega terlihat bersemangat. Tangannya berkali-kali mengepal ke udara. Kata-katanya tegas. Deras mengalir seperti air. Padahal Mega berpidato tanpa teks. Dalam orasinya, Mega langsung menyerang wacana pemilu satu putaran. "Apakah itu demokrasi? Biar satu putaran, dua putaran, yang paling penting adalah rakyat Indonesia diberi hak penuh untuk memilih pemimpin," kata Megawati.
Seruan itu langsung disambut teriakan gemuruh para kader dan simpatisan di Gelora Bung Karno. Menyaksikan pidato tersebut, seperti melihat bukan Megawati yang yang sebenarnya. Dulu, Mega terhitung jarang berpidato. Kalau pun berpidato, biasanya singkat. Tidak di depan massa yang membludak. Lebih sering ditemani teks. Namun, kini semua berubah.
Megawati adalah anak kedua proklamator Bung Karno. Ia lahir saat hujan lebat membelah angkasa Yogyakarta pada waktu senja. Hari itu, 23 Januari 1947, atap rumah sampai tersibak karena angin ribut. Gelap. Tak ada lampu yang menyala. Saat lahir ia diberi nama Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri.
Belum berumur setahun, kesulitan langsung menjerat Megawati kecil. Belanda melakukan agresi pertama. Ia dan Bung Karno terpaksa lari bersembunyi ke Jawa Timur. Pada agresi Belanda kedua, giliran Bung Karno ditangkap. Bung Karno dibuang ke pulau Bangka. Megawati bersama Guntur dan ibunya, Fatmawati, harus hengkang dari Istana Yogyakarta. Ia terpaksa tinggal di pemukiman rakyat biasa.
Tumbuh pada masa sulit, membuat Mega menjadi anak pendiam. Ia sempat bersekolah di Istana, sebelum akhirnya di sekolah umum.
Namun petaka kembali datang. Bung Karno terguling. Dan pada tahun 1967, Megawati harus keluar dari Istana Negara.
Tak hanya itu kesulitan Megawati. Dia pun harus keluar dari bangku kuliah karena menolak menandatangani pernyataan kesetiaan pada Partai Nasional Indonesia versi Orde Baru. Ia pun terpaksa drop out dari Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran pada tahun kedua.
Mega lalu tumbuh seperti perempuan biasa. Menikah dan membesarkan anak.
Ia baru terjun ke dunia politik pada tahun 1987. Ia bergabung dalam Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Ia pun terpilih menjadi Ketua Umum PDI pada tahun 1994. Pemerintah Orde Baru nampaknya tak suka dan kemudian membuat kongres tandingan di Medan. Di sini terbentuk kepemimpinan PDI Suryadi. Dualisme kepemimpinan ini membuat konflik PDI memanas. Puncaknya, peristiwa 27 Juli 1996. Saat itu kantor PDI di Jalan Dipenogoro, Jakarta, yang dikuasai kubu Megawati, diserbu pendukung Suryadi. Puluhan orang hilang, ratusan luka-luka dan ditahan.
Sesudah peristiwa itu, Orde Baru tak bertahan lama. Akibat krisis ekonomi dan krisis kepercayaan, Soeharto tumbang. Reformasi terkuak. Mega pun mengibarkan bendera PDI Perjuangan. Pada pemilu tahun 1999, PDI Perjuangan menyabet tempat pertama dengan perolehan 33 persen suara.
Megawati akhirnya duduk sebagai presiden tanggal 23 Juli 2001. Itu terjadi saat MPR melengserkan Abdurrahman Wahid. Mega berkuasa selama tiga tahun. Tapi pada pemilu 2004, perolehan suara PDI Perjuangan tergerus. Kursi kepresidenan beralih ke bekas menteri Mega, Susilo Bambang Yudhoyono.
***
Seperti Megawati, Prabowo memiliki kehidupan berliku. Ayahnya pernah berseberangan secara politik dengan Bung Karno. Bersama ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, Prabowo terpaksa hidup di pelarian. Di luar negeri, mereka hidup berpindah-pindah selama beberapa tahun. Ia dan keluarga baru pulang ke Indonesia setelah Bung Karno jatuh.
Saat beranjak remaja, Prabowo mengabdikan hidupnya di dunia militer. Ia pun menikah dengan Titiek Soeharto dan dikarunia satu orang putera. Pangkatnya di militer terus moncer.
Pada 1995, Prabowo diangkat sebagai Komandan Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Pangkatnya naik dari Kolonel menjadi Brigadir Jenderal.
Di tangan Prabowo, organisasi pasukan elit itu jadi kian mekar. Dari tiga grup menjadi lima. Status komandan naik menjadi Komandan Jenderal (Danjen). Bintang di pundak Prabowo tambah jadi dua.
Lalu, dari sana karirnya melesat cepat. Dia menjabat Panglima Kostrad. Di Kostrad, pangkat Prabowo terkerek menjadi Letnan Jenderal. Usianya masih muda, 47 tahun.
Tapi tanggal 24 Agustus 1998 karirnya di militer tamat. Dewan Kehormatan Perwira merekomendasikan Letnan Jenderal Prabowo Subiyanto berhenti dari dinas militer. Dia terbukti bersalah saat menjadi Komandan Jenderal Kopassus karena menculik para aktivis pro demokrasi tanpa sepengetahuan Panglima ABRI.
Usai karir di militer, Prabowo lalu beralih menjadi pengusaha. Ia menjadi Komisaris Perusahaan Migas Karazanbasmunai di Kazakhstan; Presiden dan CEO PT Tidar Kerinci Agung (perusahaan produksi minyak kelapa sawit), Jakarta, Indonesia; Presiden dan CEO PT Nusantara Energy (migas, pertambangan, pertanian, kehutanan dan pulp) Jakarta, Indonesia; dan Presiden PT Jaladri Nusantara (perusahaan perikanan) Jakarta, Indonesia.
Pada pemilu 2008, Prabowo mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Partai ini berhasil meraih 3,7 persen suara. Kemudian ia diajak Megawati maju dalam pemilu sebagai calon wakil presiden.
***
Sejak terbentuk, pasangan Megawati-Prabowo sudah unik. Mereka, misalnya, mengambil tempat tak biasa bagi deklarasi pasangan capres dan cawapres. Mereka memilih tempat pembuangan sampah Bantar Gebang, Bekasi.
Megawati menuturkan, dipilihnya Bantar Gebang sebagai tempat deklarasi, lantaran dirinya dan Prabowo ingin belajar secara langsung dari rakyat kecil tentang Indonesia yang sesungguhnya. Sebab, di Bantar Gebang terdapat sekitar 5.000 pemulung yang terus berjuang demi sesuap nasi.
Lalu, pasangan ini bergerak cepat. Pada peringatan hari lahir Bung Karno ke-108 di Lapangan Tugu Proklamasi Rengasdengklok, Karawang, kedua pasangan langsung menandatangani kontrak politik. Kontrak politik pertama ini dibuat awal Juni bersama pimpinan serikat buruh.
Dalam kontrak politik itu, mereka menegaskan komitmen mereka untuk buruh. “Kami akan menandatangani kontrak politik untuk buruh Indonesia. Berjuang sekeras-kerasnya menghapus outsourcing, dan menjadikan 1 Mei menjadi hari libur nasional,” kata Prabowo Subianto, dalam acara itu.
Kontrak politik itu seolah menjadi prolog bagi kontrak-kontrak politik lainnya antara pasangan Megawati-Prabowo dengan berbagai kelompok masyarakat. Mereka adalah petani, mahasiswa, guru, pedagang pasar tradisional, aparat desa, peternak susu dan korban lumpur Lapindo.
Dengan petani di Banyumas misalnya, kontrak politik ditandatangani 21 perwakilan kelompok tani. Dalam kontrak dengan petani itu, Megawati menyatakan bersedia memenuhi 10 butir kesepakatan. Di antaranya menjamin ketersediaan dan pendistribusian benih dan pupuk bersubsidi, mengembangkan pertanian ramah lingkungan, kredit murah dan mudah untuk petani, serta menjamin penjualan hasil pertanian dengan harga layak.
Di Surabaya, pasangan Megawati-Prabowo juga ditodong mahasiswa untuk membuat kontrak politik. Salah satu poin kontrak politik itu adalah mencabut Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP). Menurut pasangan itu, regulasi BHP adalah bagian dari sistem neoliberalisme.
Menurut tim sukses Mega-Prabowo, Arif Budimanta, kontrak politik yang sudah ditanda-tangani pasangan itu jumlahnya sudah mencapai puluhan buah. “Kontrak politik adalah upaya untuk membangun modal sosial bersama,” ujar Arif.
Selain melakukan manuver kontrak politik, pasangan ini juga mengeluarkan jurus mengejutkan. Mereka berkata bersedia tidak digaji bila terpilih menjadi presiden dan wakil presiden.
“Selama belum tercapai hal-hal yang tercantum dalam kontrak-kontrak politik yang kami tandatangani, kami tidak akan menggunakan gaji dan tunjangan kami,” kata Prabowo tegas.
Maka, dengan bermodal kontrak politik dan bersedia tidak digaji itu lah, pasangan ini maju dalam pemilihan presiden 8 Juli.
• VIVAnews