Pemilu Presiden
Pasangan JK-Wiranto
Kemandirian ekonomi, lebih cepat lebih baik. Terbentur elektabilitas.
Jum'at, 3 Juli 2009, 20:28 WIB
Wenseslaus Manggut
Wiranto Temui Jusuf Kalla (VIVAnews/Tri Saputro)
JK Kampanye di Gedung Olahraga Senam, Duren Sawit, Jakarta Timur,
 

VIVAnews - INI cerita tentang penampilan Jusuf  Kalla. Beberapa hari setelah mendeklrasikan diri  sebagai calon presiden, beberapa kawan dekatnya memberi sejumlah saran.

Gaya bicara harus diubah. Lebih pelan. Diplomatis. Harus Jaim alias jaga image dan jangan suka tercenung jika diclosed up kamera tivi.

Ada juga yang memberi saran soal baju dan celana. Baju lengan panjang polos yang kerap dipakai diganti jas, dengan dasi melintang agar lebih gagah. Rupa-rupa saran itu terus bertaburan pada masa kampanye.

Dan Jusuf Kalla tekun mendengar. Dalam  debat calon presiden yang pertama,  Kamis 18 Juni, Kalla tampil formal. Bicara tertata dan dibekali materi tertulis.

Hasilnya begitu kering, kaku, monoton dan Kalla seperti dipenjara dalam penampilannya sendiri. Tidak memukau sebagaimana ketika  saudagar Bugis itu tampil di depan para pengusaha Kadin, sepekan sebelumnya.

Alwi Hamu, kawan dekat Jusuf  Kalla, berseloroh begini, “Di Makasar ada pepatah yang mengatakan bahwa gunung bisa dipindahkan, tapi kebiasaan susah sekali.” Kalau dipaksa berubah,  hasilnya bisa celaka.

Dan itulah yang terjadi dengan penampilan Kalla dalam debat pertama itu. Sejumlah kawan akhirnya membisiki  agar  pecinta music jazz ini tampil dengan gayanya sendiri. Spontan, apa adanya dan to the point.

Khayalak ramai menyaksikan  gaya khas Jusuf Kalla  itu dalam debat terakhir  calon presiden, yang digelar di Jakarta Kamis 2 Juli 2009. Dia menjelaskan  negara kesatuan dan otonomi daerah dengan contoh yang sederhana dan renyah.

Gaya formal dan  ewuh pakewuh sebagaimana terlihat dalam debat pertama juga lenyap.  Dengan cepat dia menohok iklan Pemilu satu putaran yang digeber pendukung SBY-Boediono.

Iklan Pemilu satu putaran demi menghemat Rp 4 triliun, kata Kalla,  sangat berbahaya. Karena itu berarti memandang demokrasi dengan uang.

Setelah meminta maaf kepada SBY, Kalla melanjutkan, “Kalau hal itu dipercaya, saya takut tahun 2014 akan ada iklan, lanjutkan terus tanpa Pilpres demi hemat Rp 25 triliun.” Hadirin  bertepuk tangan. SBY membantah iklan itu disokong tim kampanyenya. Sesudah itu mereka salaman. Debat jadi cair. Juga memukau.

Kepada Vivanews sebelum  debat yang ketiga itu, Jusuf Kalla menuturkan bahwa dia akan tampil apa adanya dan to the point, lebih atraktif  dari penampilannya dalam debat kedua yang digelar Kamis,25 Juni 2009. “Saya akan tampil apa adanya,” katanya.

Tampil apa adanya. Itulah kekuatan Jusuf Kalla. Gaya bicara yang ceplas-ceplos tapi  terjaga dan to the point dalam dua debat terakhir  terbukti mendongrak popularitas, bahkan mampu menculik para pemilih dari kantong SBY-Boediono.

Lihatlah hasil jajak pendapat Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang diumumkan Sabtu, 4 Juli 2009 di Jakarta.  Lembaga itu menggelar jajak pendapat  dari tanggal 30 Juni hingga 2 Juli 2009. Artinya setelah debat pertama dan kedua berlangsung.

Survei dilakukan dengan cara tatap muka terhadap 3.100 responden dari 33 propinsi. Dari jumlah itu, 64 persen responden mengaku menonton semua acara debat. Selebihnya tidak menonton.

Hasilnya, perolehan JK-Wiranto 11 persen. Naik sekitar 8 persen dari perolehan sebelumnya. Pasangan Megawati-Prabowo  turun sedikit menjadi 19,6 persen. Dan pasangan SBY-Boediono merosot 7 persen menjadi 62,1 persen.

Dodi Ambardi, Direktur Eksekutif  LSI, meyakini bahwa walau tidak begitu besar, acara debat yang ketiga pun akan mendongkrak perolehan suara Jusuf Kalla.Gaya yang serba terbuka, kesan cepat dalam mengambil keputusan  sanggup menyedot pemilih.

***

Lahir di Watampone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942, dari keluarga saudagar,, Jusuf Kalla paham betul bahwa cepat mengambil keputusan berarti kemenangan. Terlambat berarti kalah. Prinsip itulah yang diramu dalam tag line kampanye: Lebih Cepat Lebih Baik.

Dan semuanya memang serba cepat. Jusuf Kalla memilih Cawapres lebih cepat dari kandidat lain. Bahkan lebih cepat dari pengumuman hasil Pemilu legislatif yang dilansir Komisi Pemilihan Umum(KPU).

Pasangan JK-Wiranto dideklarasikan di rumah kontrakan Jusuf Kalla di Jalan Ki Mangun Sarkoro, Menteng, Jakarta Pusat,  Jumat 1 Mei 2009 .Hasil final Pemilu legislatif  diumumkan 11 Mei 2009.  Proses lirik-meliriknya juga super singkat. Sejumlah petinggi Golkar menuturkan proses negosiasi cuma sepekan.

“Pernikahan dini” Jusuf Kalla dan Wiranto itu mengejutkan publik politik. Sebab selain berebut ke pucuk beringin tahun 2004, hubungan keduanya juga penuh onak dan duri.

Dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Golkar Oktober 2008, Jusuf Kalla sengit menyindir  Wiranto. Ketua Umum Golkar itu menyebutkan, “Ketika tidak terpilih, dia langsung keluar tanpa permisi.” Prabowo Subianto, lanjutnya, jauh lebih sopan. “Mau keluar, masih kirim surat.”

Jenderal Purnawirawan Wiranto menyahut esok harinya. Pernyataan Kalla tidak sesuai fakta. Dia mengaku sudah mengirim surat sebelum check-out dari partai itu. "Secara santun, sopan, elegan dan bertanggung jawab," pungkas Wiranto.

Kisruh soal pergi tanpa pamit ini nyaris berlanjut ke meja hijau.  Wiranto mengirim somasi. Kalla akhirnya memberi klarifikasi. Keributan mereda. Keduanya malah lengket. Bahkan saling mengumbar pujian.

Jusuf Kalla, kata Wiranto, adalah sosok yang punya ketegasan seperti militer. Dia juga berhasil mengatasi persoalan bangsa dengan cepat. “Kalau lambat kita bisa ketinggalan terus,” kata Wiranto.  Dan sejak deklarasi, keduanya  bekerja cepat menjaring pemilih.

Di atas kertas – ini jika suara partai  Golkar dan Hanura solid – pasangan ini sudah mengumpul 18 persen suara. Jusuf Kalla haqul yakin modal awal ini akan solid. “ Modal awal kami lumayan, 18 persen,” katanya suatu ketika.
                       
***

Suatu siang di sebuah Mall di Jakarta. Pertengahan Juni 2009. Jusuf Kalla melengak-lengok di atas  cat walk. Bergaya seperti peragawan keren, dia berhenti sejenak. Lalu mempertontonkan sepatu hitamnya.

Wiranto lebih bergaya lagi. Dia melengak-lengok hingga ke ujung ke cat walk. Memutar badan. Memutar kepala. Menoleh ke kiri dan ke kanan.  Lalu tepuk tangan bergemuruh.

Talk Show siang itu digelar sebuah stasiun televisi swasta. Dalam acara itu, ditayangkan tanggapan sejumlah warga terhadap pasangan ini. Seorang warga mempertanyakan realisasi program kemandirian ekonomi yang kerap dijual Jusuf Kalla.

Sang calon presiden ini sontak memeriksa sepatu Wiranto yang berdiri di sampingnya.  Wiranto mencopot sepatu lalu menunjukkannya kepada Kalla.  “Ini buatan Sukabumi Pak,” kata Wiranto. Setelah pertunjukan sepatu itu, presenter  meminta keduanya bergaya dengan sepatu van lokal itu.

Kemandirian ekonomi. Itulah jualan kedua pasangan ini sepanjang masa kampanye. Dari iklan di televisi, radio, halaman koran  hingga ribuan baliho yang bertaburan di sekujur  negeri.

Dan Kalla memulai urusan kemandirian ekonomi ini dari urusan kaki, sepatu.  Dan dia mengklaim bahwa kampanye itu sudah manjur.
Produksi sepatu lokal naik 30 persen. Kenaikan itu tidak lama setelah dia merazia sepatu sejumlah menteri, dan sejumlah menteri merazia sepatu para bawahan.

Efek domino itu, klaim Kalla, mendongkrak produksi sepatu. Jika menjadi presiden, dia berjanji sekuat tenaga membantu produsen  mengusasi 60 persen pasar sepatu nasional. Produk lokal lain juga akan didongkrak.

Selain tanaman pangan, Kalla juga berjanji merayu sejumlah perusahaan raksasa internasional, agar duduk bersama melakukan negosiasi ulang. Dia misalnya mengklaim, sudah berusaha agar Blok Natuna dikelola Pertamina.

Tapi upaya itu gagal. Blok Natuna itu jatuh ke EXXON. Kegagalan itu, kata Kalla, lantaran “Wewenang negosiasi sudah tidak lagi di bawah kontrol saya.” Dia berjanji akan melakukan negosiasi ulang jika terpilih.

Apakah jualan kemandirian ekonomi ini mampu menyedot pemilih dan bisa mengantar Jusuf Kalla ke kursi presiden. Bisa ya, bisa tidak.

Dodi Ambardi dari LSI meragukannya.Tingkat elektibilitas Kalla memang melonjak. Tapi masih tertinggal jauh dari perolehan pasangan SBY dan Boediono. “Musuh utama JK adalah waktu yang kian sempit,” kata Dodi.

Jusuf Kalla sendiri tidak begitu peduli dengan hasil jajak pendapat sejumlah lembaga survei.Dia terus gerilya ke daerah.Sabtu pekan lalu, dia berkampanye di sejumlah kota di Jawa Timur.

Dari perjalanan ke sejumlah daerah itu Kalla mempunyai tiga pengalaman unik. Tiga gubernur keseleo lidah. Mereka memanggil wakil presiden ini dengan sebutan Bapak Presiden.

Yang pertama Gubernur Riau, Rusli Zainal. Entah karena grogi atau alasan lain, dia menyebut Kalla dengan panggilan Bapak Presiden. Pak gubernur ini baru sadar ketika 500 undangan menjawab, “Aaaamin.”

Gubernur kedua yang keseleo lidah  adalah Zainul Majdi di Nusa Tenggara Barat. Dalam acara pengembangan wisata di Mataram, sang gubernur memanggil Kalla, “Pak Presiden.” Dari ratusan hadirin, JK yang paling kencang menjawab, “Aaamin.”

Beberapa pekan kemudian,tanggal 3 April 2009, Kalla bertemu dengan perwakilan petani tebu se Jawa Barat di Cirebon. Tanpa sengaja, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan juga memangil JK “ Pak Presiden”.

Tapi kali ini Kalla gagal menjawabnya dengan “Aaamin,” sebab dia tidak bisa menahan tawa. Dia tertawa lantaran membayangkan reaksi  petinggi PKS di Jakarta, yang sudah memiliki calon presiden.

Dari kampanye ke sejumlah ke seluruh negeri itu, Kalla meyakini bahwa kemandirian ekonomi itu bukan angan belaka.

Apakah Anda percaya? Selamat memilih.

• VIVAnews
 
komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.